ABOUT SEMARANG – Sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Majalengka menyimpan banyak kisah tentang asal-usul namanya.
Di kalangan masyarakat setempat, berkembang dua versi utama mengenai asal nama Majalengka: versi rakyat yang menyebut “Majae Langka” sebagai buah maja yang hilang, dan versi historis yang mengaitkan dengan penghapusan Kabupaten Maja. Lantas, mana yang benar?
Cerita rakyat Majalengka menyebutkan bahwa nama “Majalengka” berasal dari dua kata dalam bahasa Cirebon: “Majae” (buah maja-nya) dan “Langka” (hilang atau tidak ada).
Kisah ini dikaitkan dengan Nyi Rambut Kasih, seorang ratu dari Kerajaan Sindangkasih yang masih menganut agama Hindu-Buddha dan menolak Islamisasi dari Kesultanan Cirebon.
Diceritakan bahwa ketika rakyat Cirebon membutuhkan buah maja sebagai obat penyakit, mereka mencari buah tersebut ke wilayah Sindangkasih.
Namun karena rasa benci Nyi Rambut Kasih terhadap Cirebon, ia memerintahkan untuk membabat habis pohon maja, sehingga ketika orang-orang Cirebon datang, buah tersebut sudah hilang (langka).
Sejak itulah, daerah tersebut disebut “Majae Langka” yang kemudian menjadi Majalengka.
Namun, dikutip dari www.historyofcirebon.id, sejarawan dan peneliti sejarah lokal menganggap cerita ini bersifat mitologis dan tidak memiliki dasar historis yang kuat.
Penelusuran sejarah menunjukkan bahwa nama Majalengka sebenarnya berkaitan langsung dengan penghapusan Kabupaten Maja oleh pemerintah kolonial Belanda.
Bukti validnya adalah Besluit Belanda (Keputusan Resmi Pemerintah Hindia Belanda) tertanggal 11 Februari 1840, yang secara eksplisit menyatakan:
“Verandering van den naam van het regentschap Madja (residentie Cheribon), alsmede van den zetel van hetzelve, thans genaamd Sindang-Kassie, in dien van Madja-Lengka.”
(Terjemahan: Perubahan nama Kabupaten Maja (Karesidenan Cirebon), sekaligus juga ibu kotanya yang saat itu bernama Sindangkasih, menjadi Majalengka).
Dari sini jelas bahwa Majalengka adalah kelanjutan administratif dari Kabupaten Maja, dan nama “Majalengka” bermakna hilangnya Maja, bukan hilangnya buah maja, melainkan hilangnya wilayah administratif Kabupaten Maja.
Kisah Nyi Rambut Kasih vs Cirebon yang menjadi latar dongeng “Majae Langka” juga mulai diragukan keabsahannya. Dalam Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari dan Naskah Mertasinga, disebutkan bahwa:
- Nyi Ambet Kasih (atau Rambut Kasih) adalah istri Prabu Siliwangi, bukan ratu Sindangkasih pada masa Kesultanan Cirebon.
- Kerajaan Sindangkasih memang pernah ada, namun berlokasi di Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon, bukan di wilayah Majalengka saat ini.
- Cirebon belum berdiri pada masa hidup Nyi Ambet Kasih, karena saat itu wilayah Cirebon masih di bawah kekuasaan Kerajaan Singapura dan Surantaka.
- Raja terakhir Sindangkasih adalah Dalem Digja, yang disebut moksa setelah kerajaan ditaklukkan oleh pasukan Cirebon.
Dengan fakta ini, maka sangat diragukan bahwa konflik antara Nyi Rambut Kasih dan Cirebon menjadi asal-muasal penamaan Majalengka.
Berdasarkan data historis yang didukung oleh dokumen resmi pemerintah kolonial, nama Majalengka muncul karena penghapusan Kabupaten Maja dan pemindahan pusat pemerintahan dari Sindangkasih.
Penamaan “Majalengka” secara etimologis lebih logis diterjemahkan sebagai “sirnanya Kabupaten Maja” daripada “buah maja yang hilang”.
Sementara itu, kisah Nyi Rambut Kasih lebih tepat dianggap sebagai bagian dari folklor atau legenda rakyat, yang meskipun memiliki nilai budaya dan lokalitas yang tinggi, tidak dapat dijadikan dasar sejarah resmi.***
News
Berita
News Flash
Blog
Technology
Sports
Sport
Football
Tips
Finance
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Kekinian
News
Berita Terkini
Olahraga
Pasang Internet Myrepublic
Jasa Import China
Jasa Import Door to Door
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.